Sisi Terang
BaruPopuler
Inspirasi
Kreativitas
Luar Biasa

Alasan Anakmu Sulit “Tenang” Selama Tantrum dan Cara Menghadapinya

----
594

Saat anak mulai tantrum, mereka mungkin terlihat seperti tornado yang mustahil dikendalikan. Jadi, jika mereka tidak mau berhenti berteriak dan bertingkah, wajar kamu merasa frustrasi. Beberapa orang bahkan berpikir jika anaknya sering tantrum, ini pertanda bahwa mereka adalah orang tua yang buruk. Namun, perilaku ini adalah tahap yang penting dalam perkembangan anak, karena selama masa ini, mereka belajar untuk mengatasi emosi.

Menurut kami di Sisi Terang, orang tua tidak harus menyalahkan diri sendiri jika anak mereka sering tantrum. Kami juga ingin berbagi informasi tentang cara membantu anak menenangkan diri dalam situasi ini.

Anak tidak mampu tenang karena otaknya yang masih berkembang tidak mampu melakukannya.

Secara garis besar, cara kerja otak kita dapat dibagi menjadi aspek emosional dan rasional. Aspek emosional lebih primitif dan berdasarkan naluri. Aspek rasional membantu kita membuat rencana, berpikir sebelum bertindak, membuat keputusan moral, dan melihat semua hal dari perspektif yang berbeda. Selama tantrum, bagian emosional dan impulsif menguasai otak anak, sehingga mustahil bagi bagian rasional dan logis untuk menyeimbanginya.

Otak anak yang masih berkembang sulit untuk mencoba dan melihat berbagai hal dari perspektif orang tua mereka untuk tenang. Dan karena pada dasarnya bagian rasional tidak aktif selama tantrum, penjelasan yang diberikan orang tua seringnya tidak efektif.

Ada satu alasan anak melakukan tantrum.

Biasanya hanya ada satu alasan tantrum terjadi, yaitu karena anak tidak mendapatkan apa yang diinginkan dan emosinya meluap. Untuk anak usia 1 hingga 2 tahun, masalah umumnya adalah mereka tidak dapat memberi tahu orang tuanya apa yang mereka butuhkan karena belum memiliki kemampuan bahasa untuk melakukannya.

Untuk balita, ini lebih cenderung tentang kemandiriannya. Mereka tahu apa yang diinginkan dan tahu cara memintanya. Tapi jika tidak mendapatkannya, mereka akan sangat kesal. Oleh karena itu, mereka merasa tidak memegang kendali, dan mereka ingin menunjukkan siapa yang berkuasa dengan mengeluarkan tantrum. Terkadang berhasil, dan mereka belajar bahwa perilaku seperti ini bisa membantu mereka untuk memanipulasi orang tua.

Yang diinginkan anak tidak selalu berupa objek. Tapi bisa juga aktivitas yang tidak bisa dilakukan sendiri. Misalnya, anak mungkin kesulitan mengikat sepatu mereka, tapi mereka tidak menginginkan bantuan karena ingin merasa mandiri. Saat sadar bahwa mereka ternyata tidak mampu melakukannya sendiri, emosi negatifnya meledak.

Mengabaikan tantrum adalah strategi terbaik.

Hal pertama yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi tantrum anak adalah berusaha tetap tenang. Ini akan membantumu berpikir lebih jernih, serta menjadi contoh yang baik bagi anak. Mereka akan melihat kamu tenang, dan mungkin mereka akan lebih mudah tenang dengan meniru perilakumu.

Saat kamu tetap tenang, anak juga akan tahu bahwa kemarahannya tidak memengaruhimu dengan cara yang mereka harapkan. Mengabaikan tantrum akan mengajarkan anak bahwa berperilaku seperti itu tidak akan membuat mereka mendapatkan yang diinginkan.

Ada beberapa trik yang bisa membantumu menenangkan anak.

Hanya memberi tahu anak untuk santai dan tenang saja mungkin tidak cukup. Jadi, mengatakannya dengan suara yang lembut adalah ide yang bagus. Jaga pula kontak mata, karena ini juga menunjukkan kepada anak bahwa kamu sedang mendengarkan dan kamu peduli. Sentuh anak secara perlahan juga dapat membantu mereka merasa lebih santai.

Trik lain yang bisa membantu meredakan tantrum adalah mengalihkan perhatian anak pada hal lain. Misalnya, kamu bisa menanyakan mereka pertanyaan yang tidak mereka duga dan tidak berhubungan dengan keadaan yang menyebabkan tantrum, seperti, “Siapa nama ibu sahabatmu?”

Bermain juga dapat membantu mengalihkannya. Ini bisa berupa kegiatan fisik, seperti lempar bola, atau sedikit peregangan otak. Mencicipi makanan asam atau pahit, seperti lemon, juga bisa membantu.

Kamu juga bisa mencoba mencegah tantrum.

Cobalah untuk mencari tahu penyebab tantrum anak. Setelah itu, kamu juga bisa mencoba memodifikasi pemicu tersebut dengan cara yang akan membantu anak mengatasinya lebih baik. Misalnya, jika melakukan pekerjaan rumah tampaknya terlalu membebani mereka, kamu bisa mencoba memudahkannya dengan mengizinkan mereka untuk istirahat secara berkala. Kamu juga bisa membantu mereka memilah tugasnya menjadi lebih sederhana, dan tentunya, tunjukkan dukungan dan persetujuanmu saat mereka melakukannya.

Bagaimana reaksimu saat anak mengeluarkan tantrum? Apa penyebab umum yang membuat mereka melakukannya? Punya trik yang membantumu menenangkan anak?

Kredit foto pratinjau ReasonsMySonCry / Facebook
----
594
Bagikan Artikel Ini