Inilah 12 Pertanda Seseorang Takkan Membiarkan Siapa pun Mengambil Keuntungan Darinya

Kebanyakan dari kita menghubungkan kata “egois” dengan orang tidak ramah yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Tapi para psikolog mengklaim keegoisan sebenarnya memiliki sejumlah manfaat dalam situasi-situasi tertentu. Sebagai contoh, saat kamu mau menghentikan orang yang sudah kelewat batas dan membuatmu kesal.

Sisi Terang mengumpulkan beragam situasi ketika kita perlu mengedepankan kecintaan kita pada diri sendiri sekaligus menunjukkan jati diri kita kepada orang-orang di sekitar. Berikut adalah perilaku sehat orang egois yang dapat melindungi batasan dirinya dengan orang lain.

Menerima diri apa adanya, tapi tetap sadari kekuranganmu.

Kita semua menyadari bagaimana penampilan sekaligus fitur karakter kita di mata orang lain. Tapi terkadang orang-orang yang kurang sopan santun merasa perlu mengingatkan kita tentang perbedaan yang kita miliki dengannya, entah untuk alasan apa. Saat ini terjadi, jawaban tajam, namun cerdas akan membantumu menempatkan orang-orang seperti itu menyadari batasan yang sudah dia lewati.

Kamu tidak merasa perlu mencoba disukai orang lain.

Keinginan mengubah semua orang di sekitarmu menjadi menyukaimu bukanlah cara berinteraksi yang baik. Apalagi saat orang lain mencoba mengajari anaknya untuk melakukan hal yang sama. Yang perlu dikedepankan saat ini adalah kepuasan terhadap diri sendiri dan kesopanan, bukan pujian dan sanjungan. Bentuk terbaiknya adalah mengubah makna kata “tidak egois” menjadi keinginan untuk tidak membuat seseorang menyukaimu, demi kepentinganmu sendiri.

Jelaskan sudut pandangmu dengan tenang dan jelas.

Meminta apa yang memang seharusnya kamu dapatkan adalah hal yang normal, dan kamu tidak perlu merasa malu. Perkataan ibu peri Cinderella tentang bahayanya tidak pergi ke suatu pesta dansa padahal kita layak menghadirinya akan sangat cocok dalam situasi ini. Kita semua punya sedikit “sisi Cinderella” dalam diri kita masing-masing, tapi alih-alih tongkat sihir dan ibu peri, yang kita punya adalah hak untuk hal-hal tertentu yang semestinya kita dapatkan.

Tidak perlu merasa malu akan pendapatmu.

Terkadang, kita melakukan berbagai aktivitas dan kegiatan yang bertentangan dengan keinginan kita sendiri, dengan alasan orang lain mencoba memaksakannya kepada kita. Jika ini yang kamu hadapi, sebaiknya mundur sejenak dan pikirkan apa kamu benar-benar ingin menghabiskan waktu pribadimu untuk melakukan tugas-tugas publik. Jika jawabanmu tidak, cukup tolak tawarannya tanpa perlu menyesal.

Mampu menolak jika permintaan seseorang bertentangan dengan kepentinganmu.

Kita kerap mengorbankan kepentingan pribadi kita demi orang lain, dengan alasan takut merusak hubungan. Dan terkadang, setelah melihat celah ini, orang di sekitar kita mulai memanfaatkannya untuk kepentingan mereka sendiri. Jika ini yang terjadi, menolak adalah opsi baik. Respons menolak dengan kata sesimpel, “Tidak,” sangatlah kuat dan jujur. Tidak ada salahnya menolak permintaan orang-orang egois. Jika temanmu tahu kalau dirimu bekerja sampai larut malam, tapi terus menitipkan anaknya padamu, sudah saatnya kamu memikirkan hubungan pertemananmu dengannya.

Tidak perlu merasa tidak enak kepada orang lain.

Banyak wanita sudah mulai hidup dengan prinsip: “Kalau aku tidak mengurus diri sendiri, takkan ada yang mengurusku,” dan mereka tidak merasa bersalah akan prinsip ini. Pada akhirnya, sangat menyenangkan melihat bagaimana berbagi tugas rumah tangga di antara anggota keluarga bukan lagi dianggap sebagai suatu hal yang memalukan.

Tidak mengumbar janji kepada siapa pun.

Salah satu cara dalam memanipulasi seseorang dari sisi psikologis adalah memaksa orang lain membuat janji denganmu. Tapi mereka yang percaya diri tidak sembarang mengumbar janji yang pada akhirnya bertentangan dengan kehendaknya sendiri. Kamu perlu mempertimbangkan lebih dulu seberapa besar peluangmu untuk bisa memenuhi janji-janji ini dan jangan jadikan alasan lain, seperti agar dirimu terlihat baik di mata orang lain, menjadi alasan utamamu dalam berpikir.

Tidak mudah terjebak ke dalam trik para manipulator.

Para pegawai jenis usaha bidang jasa sangat mengidamkan pelanggan tetap dan sering memberi kita diskon spesial. Tapi terkadang, perusahaan-perusahaan besar sekali pun melanggar sejumlah protokol demi membuat kita kembali kepada mereka lagi dan lagi. Penolakan logis sangat cocok untuk menjawab penawaran seperti ini. Tidak perlu diambil pusing.

Jangan bagi fokusmu dengan kegiatan tidak penting.

Orang egois yang sehat tahu apa yang mereka butuhkan dan selalu berusaha mewujudkannya — meski ada hal lain yang lebih menarik. Pertama, mereka menyelesaikan tugas-tugas penting, lalu baru beralih ke kegiatan menyenangkan. Mungkinkah ungkapan “orang-orang sukses berjalan di atas orang lain” muncul karena orang lain iri terhadap kemampuan orang-orang sukses mengendalikan dirinya sendiri?

Tidak memperhatikan kritik.

Orang lain pun terkadang mencoba mendapatkan apa yang dirinya mau dengan mencemooh orang lain. Sebagai contoh, saat ingin mendapatkan tempat yang nyaman di transportasi umum, orang-orang seperti ini mulai menggunakan usia atau penyakit mereka misalnya. Tapi teknik ini tidak akan mempan terhadap orang egois yang “sehat”, karena mereka tidak terburu-buru membenarkan diri sebelum menilai situasi yang ada.

Sadarkan orang-orang yang lancang.

Kemampuan untuk membela diri di waktu yang tepat sangatlah berharga. Tidak ada salahnya menghalangi orang-orang lancang yang sudah mengganggumu. Karena jika kamu menyerah pada ucapan dan senyuman manis tetanggamu sekali saja, barang-barang miliknya mungkin akan mulai berserakan di dekat pintu depan rumahmu selamanya.

Jangan lupakan sisi kekanak-kanakanmu.

Mereka yang menyukai dan menerima diri sendiri baik dari dalam maupun luar juga termasuk orang egois sehat. Merasa sedih ketika harus merasa sedih dan merasa bahagia ketika harus bahagia adalah hal yang baik. Umur kita tidak seharusnya menghalangi kita bersikap seperti ini. Orang lain bisa saja mencoba memaksakan norma-norma kesopanan pada kita. Jika terus dibiarkan, bukan tidak mungkin kita merasa hidup dalam standar kehidupan orang lain.

Apa kamu pernah menghadapi situasi yang mengharuskanmu menunjukkan sisi egoismu? Coba tulis di kolom komentar, ya.

Bagikan Artikel Ini