Sisi Terang
BaruPopuler
Inspirasi
Kreativitas
Luar Biasa
Sisi Terang

10 Momen Putri Diana Menunjukkan Jiwa Pemberontaknya dengan Melanggar Peraturan Kerajaan

----
650

Putri Diana dijuluki Ratunya Hati. Dia terkenal akan ketulusan, keterbukaan, dan jiwanya yang suka memberontak. Lady Di tidak takut melanggar peraturan kerajaan dan telah melakukannya sejak hari-hari pertama kemunculannya di istana. Dia memilih cincin tunangan sendiri, menulis ulang sumpah pernikahannya, dan membesarkan anak-anaknya dengan caranya sendiri.

Di Sisi Terang, kami tidak dapat berhenti mengagumi kepribadian Diana, hingga kami putuskan untuk mengenang tradisi mana saja yang dilanggar Putri Wales itu dengan jiwa pemberotaknya. Di akhir artikel, akan kami paparkan bagaimana Lady Di melanggar protokol kerajaan demi Pangeran Harry kecil.

Dia bekerja sebelum pernikahan.

Diana melanggar salah satu peraturan kerajaan, bahkan sebelum menjadi anggota keluarga kerajaan. Sebelum pernikahan, Lady Di bekerja sebagai guru tari, asisten di kelompok bermain prasekolah, dan penerima tamu di pesta-pesta, sehingga menjadi menantu wanita kerajaan pertama dengan pekerjaan berbayar sebelum pertunangan.

Dia memilih nama untuk putra-putranya sendiri.

Menjadi ibu sangat penting bagi sang putri. Diana membesarkan putra-putranya sendiri, tidak membiarkan aturan dan kebiasaan membimbingnya. Maka, Putri Wales pun memilih nama para calon pangeran itu sendiri. Diketahui, Charles ingin menamai ahli warisnya Arthur dan Albert, tapi Lady Di menganggap pilihannya terlalu kuno dan berkeras dengan pilihannya sendiri.

Dia menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri.

Biasanya, anak-anak keluarga kerajaan diajar oleh para tutor, tapi Lady Di melanggar aturan ini dengan menyekolahkan William ke TK, kemudian sekolah berasrama. Putra tertua Putri Wales menjadi calon raja pertama yang dididik dalam sistem sekolah negeri sepenuhnya. Dengan cara ini, Diana ingin memberikan pendidikan yang biasa bagi putra-putranya, Pangeran William dan Pangeran Harry.

Dia melanggar batas.

Secara tradisional, ada batas tak terlihat antara keluarga kerajaan dengan staf pelayan, dan hubungan mereka diatur dengan peraturan ketat. Tapi, semua berubah sejak kedatangan Putri Wales di Istana Buckingham. Diana tidak memperlakukan pelayan sebagai bawahan, tetapi sebagai kenalan dekat. Dia sering masuk dapur dan makan malam dengan mereka di meja yang sama. Juga, bertentangan dengan tradisi, Diana sering memberi kesempatan pekerja muda yang sebelumnya tidak berpeluang untuk menaiki jenjang karier.

Dia sering menentang aturan umum.

Gestur dan postur anggota keluarga kerajaan Inggris lain cukup resmi. Sedang Putri Diana tidak pernah takut menjadi diri sendiri, meskipun di luar istana. Dia tidak ragu menunjukkan emosi, dengan mudah mengajak putranya ke acara-acara resmi, dan sangat mengapresiasi kontak fisik dengan masyarakat. Lady Di tidak ingin mengorbankan kenyamanannya demi protokol kerajaan. Kita semua tahu bahwa keluarga kerajaan dilarang duduk bersilang kaki. Dan meskipun Putri Diana, sebagai putri sejati pada awalnya mengikuti aturan ini dengan ketat, beberapa tahun kemudian, sang Ratu Hati bisa dilihat duduk dalam berbagai acara resmi dengan posisi lebih santai: bersilang kaki dan punggung lebih relaks.

Dia meminta tolong.

Banyak keluarga kerajaan terlibat dalam kegiatan amal—ini adalah bagian dari tugas mereka yang tidak dibicarakan. Tapi, Diana berhasil melangkah lebih jauh. Sang putri berupaya begitu keras untuk menarik perhatian umum terhadap masalah penting dan sensitif, yakni HIV/AIDS, yang cukup berani pada masa itu. Dan pada tahun 1997, Diana menyumbangkan 79 baju termewahnya untuk dilelang di rumah lelang Christie, New York, sehingga tergalang dana amal sebesar Rp68 miliar lebih untuk kanker dan HIV. Ini pertama kalinya seorang anggota keluarga kerajaan bukan hanya mendukung kegiatan amal, tapi berinisiatif mendukung tujuan baik itu sendiri, dengan meminta donasi secara terbuka.

Dia berpakaian yang tidak sesuai dengan aturan berpakaian kerajaan.

Putri Diana sering memilih adibusana untuk berbagai acara umum, yang di masa itu sudah terbilang cukup berani. Merek favoritnya adalah Versace — salah satu merek era ’90-an yang paling provokatif, mirip Balenciaga sekarang. Pakaian-pakaian desain Gianni Versace selalu relaks dan terbuka. Tapi alih-alih memilih merek yang lebih konservatif, dengan berani Lady Di memilih gaun-gaun berpunggung terbuka dan tanpa tali dan tidak takut memakai rok mini atau bukaan leher rendah, yang melanggar semua aturan tertulis dan tak tertulis.

Diana mengenakan pakaiannya sebagai pernyataan, yang paling terkenal adalah gaun “balas dendam” atau sweternya yang bergambar domba hitam di antara banyak domba putih. Banyak orang percaya itu sebagai kiasan Diana yang berjiwa pemberontak sedang merintis jalannya dalam keluarga kerajaan.

Dia bereksperimen dengan make up.

Diana juga tidak takut melakukan eksperimen kecantikan. Dan meskipun secara umum, make-upnya selalu sesuai dengan standar kerajaan, Lady Di memakai trik yang tidak sejalan dengan protokol kerajaan. Sang putri memakai eyeliner warna pirus untuk menonjolkan warna mata alaminya yang cemerlang.

Dia tidak memakai topi dan sarung tangan.

Kalau foto-foto sang putri diperhatikan lebih cermat, akan kamu lihat keanehan kecil: Diana hampir tidak pernah bersarung tangan. Alasan pelanggaran aturan ketat ini cukup menyentuh. Lady Di percaya sarung tangan menghambat komunikasi. Dia ingin bersentuhan langsung dan memegang tangan masyarakat. Dengan alasan yang sama, sang Putri menolak memakai topi, dengan berkata “kamu tidak dapat memeluk seorang anak saat bertopi.”

Dia tidak memaksakan pendidikan ketat bagi anak-anaknya.

Putri Diana pernah berkata, “Aku hidup untuk putra-putraku. Aku akan tersesat tanpa mereka.” Karena itu, dia berusaha keras memberikan masa kecil tak terlupakan kepada anak-anaknya. Diana tidak ragu menunjukkan perasaan terhadap putra-putranya di hadapan paparazi, dia biarkan mereka berbuat nakal, dan dia bahkan ikut serta dalam kenakalan mereka dengan senang hati.

Bonus

Secara tradisional, sekolah-sekolah di Inggris mengadakan hari olahraga bagi murid-murid dan orang tua mereka tiap tahun. Pada tahun 1991, Diana mengikuti lomba itu bersama ibu-ibu lain guna mendukung Pangeran Harry kecil. Dia melepas sepatunya, sehingga melanggar protokol kerajaan. Meskipun tidak menang lomba, mungkin Pangeran Harry tersentuh oleh tindakan ibunya.

Apa menurutmu Putri Diana menunjukkan rasa tidak hormatnya kepada kerajaan dengan melanggar peraturan ini? Atau tidak masalah meninggalkan sebagian peraturan? Beri tahu kami dalam komentar di bawah, ya!

----
650
Bagikan Artikel Ini