Sisi Terang
Sisi Terang

10 Detail Kamar Pas yang Memastikan Kamu Tidak Pulang dengan Tangan Kosong

Bagi banyak orang, jalan-jalan di mal merupakan cara untuk meredakan stres dan relaks. Mengelilingi toko, memilih pakaian, lalu becermin dengan pakaian baru di kamar pas memang terasa menyenangkan. Namun, saat kamu mencoba pakaian ini, apa kamu pernah memikirkan usaha toko untuk memastikan kamu membeli barang sebanyak mungkin?

Namaku Julia. Seperti banyak orang, terkadang, aku belanja barang yang tidak direncanakan. Saat pulang, aku melihat belanjaanku dan mencoba berpikir kenapa aku membeli tas tidak berbentuk dalam warna yang bahkan tidak bisa aku sebutkan! Aku ingin mencari tahu lebih banyak tentang ini.

Ternyata, saat kita belanja online, satu dari setiap lima barang dikembalikan kepada penjual, tapi saat kita belanja langsung ke tokonya, hal tersebut terjadi dua kali lebih jarang. Pengembalian barang selalu merugikan penjual sehingga mereka mencoba menekan jumlahnya. Toko pun mencoba memangkas pengeluaran mereka dengan memaksimalkan kamar pas mereka.

Pembeli yang menggunakan kamar pas berbelanja tujuh kali lebih sering daripada orang yang tidak menggunakan kamar pas. Artinya, 70% keputusan pembelian dilakukan di kamar pas. Selain itu, jika penjual membantu pembeli, kemungkinan mereka belanja tiga kali lebih tinggi. Jadi, wajar saja jika toko sangat serius dengan detail yang bahkan tidak kita pikirkan. Inilah beberapa trik yang digunakan toko untuk membuat kita membeli produk mereka.

Cermin

Cermin di kamar pas jelas harus cukup besar agar calon pembeli bisa melihat diri mereka. Namun, toko yang tahu cara menjual banyak barang menggunakan cermin khusus yang membuat pantulan diri kita lebih panjang. Dalam cermin seperti itu, kita melihat versi diri kita yang lebih kurus. Hal ini membuat pakaian terlihat lebih bagus di tubuh kita.

Aku memeriksa dan menemukan bahwa sebagian cermin kamar pas benar-benar membuatku terlihat lebih langsing daripada cermin yang ada di rumahku. Hal tersebut memang membuat kita merasa lebih senang. Suasana hati kita cerah dan kita ingin mencoba lebih banyak pakaian.

Lantai

Selalu terdapat karpet di lantai toko yang bagus. Berjalan di atas benda lembut terasa jauh lebih menyenangkan sehingga calon pembeli lebih betah di sana. Dengan begini, mereka akan melihat lebih banyak barang bagus. Kemungkinan mereka untuk membeli sesuatu pun akan bertambah.

Toko yang tidak memiliki karpet di kamar pas masih mencoba membuat calon pembeli merasa lebih nyaman dengan setidaknya melapisi lantai dengan sesuatu. Berdiri di atas lantai yang hangat jauh lebih baik daripada berdiri di atas ubin dingin—toko akan terasa lebih nyaman dan kita tidak akan mau buru-buru pergi.

Kait dan gantungan

Calon pembeli tidak seharusnya memikirkan di mana mereka menaruh pakaian yang mereka ingin coba dengan pakaian yang mereka kenakan. Kamu mungkin setuju, menghabiskan waktu untuk mengatur semua barang yang kamu bawa di dua kait kecil benar-benar menyebalkan. Aku pun begitu, dan hal itu membuatku ingin pergi.

Kerapian

Saat melihat sampah di lantai, aku ingin pergi bahkan tanpa mencoba apa pun. Apa aku harus melepas pakaianku dan menginjak lantai yang kotor dan dingin dengan kaki telanjangku? Apa aku benar-benar butuh celana ini?

Sulit rasanya untuk tenang jika kita terus waspada agar tidak menginjak sampah di lantai. Toko yang bagus sangat perhatian untuk membersihkan kamar pas mereka. Dan jika toko mereka kotor, apakah pakaian mereka bagus?

Tirai atau pintu

Di toko yang barangnya diproduksi luas, kamar pas biasanya dipisahkan dari lorong dengan tirai, bukan pintu. Ternyata, hal tersebut bukan tanpa alasan. Pegawai akan jauh lebih mudah membersihkannya, dan tirai membuat calon pembeli sedikit cemas—mereka tidak merasa benar-benar aman. Jadi, mereka akan buru-buru meninggalkan tempat itu. Kamar pas dengan pintu membuat kita merasa aman. Jadi, kita tidak akan buru-buru. Toko dengan harga barang menengah menginginkan calon pembeli untuk membuat keputusan cepat dan meninggalkan kamar pas agar ada ruang untuk calon pembeli lain.

Aku sudah memeriksanya sendiri. Benar, di balik pintu, kita merasa jauh lebih aman dan percaya diri. Kita tidak takut akan ada yang mengintip. Aku juga menyadari bahwa di balik pintu, aku tidak melepas pakaian buru-buru dan aku lebih lama becermin.

Kamar pas tanpa cermin

Teka-teki “temukan-cermin-di-toko”

Tidak adanya cermin di kamar ganti bukanlah kesalahan. Biasanya, ini akan kita lihat di butik mahal. Namun, ada alasannya. Calon pembeli harus meninggalkan kenyamanan kamar ganti untuk menghadap cermin besar di ruang utama tempat penjual memberi tahu mereka bahwa pakaian itu cocok untuk mereka dan mudah dipadupadankan. Ingat, penjual yang membantu calon pembeli akan meningkatkan kemungkinan barang yang dibeli lebih banyak.

Selain itu, sadarkah kamu ada sedikit sekali cermin di toko pada umumnya? Kita biasanya harus mencarinya. Aku mencari cermin yang bagus di toko, tapi kesabaranku habis dan aku pergi ke kamar pas. Inilah yang diinginkan toko tersebut.

Tidak ada antrean ke kamar pas

Semakin banyak kamar pas, semakin mungkin seseorang membeli sesuatu.

Semakin panjang antrean, semakin banyak calon pembeli meninggalkan toko tanpa membeli apa pun. Para ahli sudah memperhitungkan bahwa jika ada empat orang mengantre ke kamar pas, 3,6% calon pembeli tidak akan menunggu untuk membeli pakaian. Dan jika ada lebih dari sepuluh orang mengantre, 19% calon pembeli akan menunda membeli sesuatu. Ini sebabnya semakin banyak kamar pas, semakin bagus.

Di toko-toko besar yang memiliki banyak kamar pas, hanya sekitar 70% kamar pas digunakan pada jam ramai. Artinya, tidak semua kamar pas akan digunakan bersamaan. Toko pun tidak mau itu terjadi. Jumlah kamar pas yang banyak memberi pegawai cukup waktu untuk melepas barang tidak perlu dari ruangan itu dan membantu calon pembeli.

Harus kuakui, aku tidak suka mengantre. Aku merasa mengantre untuk masuk ke kamar pas itu memalukan. Tentu saja, aku tidak suka perasaan ini. Jadi, aku akan meninggalkan toko tanpa membeli apa pun.

Pencahayaan

Ini mungkin detail paling penting di kamar pas. Rasanya aneh tidak semua toko memiliki cahaya yang tepat. Kamar pas yang bagus harus memiliki cahaya yang cukup terang, tapi masih lembut dan hangat. Jika lampu pendar dengan akurasi warna yang tepat dipasang tinggi di langit-langit, calon pembeli akan melihat ketidaksempurnaan tubuh mereka yang biasanya tidak mereka lihat. Hal itu membuat patah semangat dan kita pasti tidak menginginkan itu saat hendak membeli pakaian baru. Kenapa ada kerutan di wajahku?

Namun, kamar pas dengan lampu di hadapan kita sangat berbeda. Tidak akan ada bayangan di wajah calon pembeli sehingga mereka bisa mudah fokus pada pakaian mereka.

Lokasi kamar pas

Kamar pas tidak pernah berada di dekat pintu masuk toko karena itu merupakan area panas—atau tempat yang membuat kita ingin membeli sesuatu begitu masuk. Di sinilah produk-produk paling menarik dipajang, seperti barang baru, produk dari iklan, dan penawaran di media sosial.

Akan lebih pintar meletakkan kamar pas di ujung toko yang merupakan area dingin. Hal ini memungkinkan calon pembeli untuk melihat produk sebanyak mungkin. Dalam perjalanan ke kamar pas, kamu pasti sudah melihat sebagian besar produk yang ada di toko tersebut.

Tombol panggilan

Detail ini jarang ada di toko dengan barang yang diproduksi luas, tapi toko mewah biasanya memilikinya. Jika aku mengambil ukuran yang salah, aku harus memakai baju lagi, masuk ke toko, mencari ukuran yang tepat, dan kembali ke kamar pas untuk melepas pakaian lagi. Hanya ada sedikit orang yang mau melakukan ini. Kita harus benar-benar menyukai barang itu untuk melakukannya. Dalam situasi itu, biasanya aku pergi saja.

Ini sebabnya tombol panggilan sangat berguna dan bagus. Calon pembeli bisa meminta pegawai toko untuk mmebawakan ukuran berbeda tanpa meninggalkan kamar pas. Hal ini juga meningkatkan kemungkinan kita membeli sesuatu.

Kamu pernah membeli barang yang tidak direncanakan setelah mencobanya di kamar pas? Beri tahu pengalamanmu di kolom komentar, ya!

Sisi Terang/Fakta Menarik/10 Detail Kamar Pas yang Memastikan Kamu Tidak Pulang dengan Tangan Kosong
Bagikan Artikel Ini