Sisi Terang
BaruPopuler
Inspirasi
Kreativitas
Luar Biasa

Akhirnya, Sungai Bisa Bebas Sampah, dan Laut Berterima Kasih Atas Hal Itu

----
766

Perkenalkan, Boyan Slat dengan proyek impiannya untuk membebaskan lautan dari polusi. Bersama dengan timnya, Boyan telah berjuang melawan sampah Samudra Pasifik selama 2 tahun, mengumpulkan potongan-potongan plastik, bahkan sampai yang sekecil satu millimeter. Syukurlah, dia dan timnya tidak berhenti di sana.

Mereka hadir dengan sesuatu yang mereka sebut Interceptor, sebuah sistem kebersihan otonom untuk sungai yang diletakkan di lambung kapal listrik.

Sisi Terang salut terhadap pencinta lingkungan maupun inovasi, sehingga kami ingin memperkenalkan kamu dengan pahlawan era modern ini.

Limbah sungai menyebabkan polusi lautan.

Kisahnya berawal dari sebuah usaha nirlaba rintisan Belanda, The Ocean Cleanup, yang mempunyai misi untuk membersihkan lautan. The Ocean Cleanup telah memasang pipa bernama Wilson berukuran raksasa untuk membersihkan lautan, dan sekarang mereka telah mengembangkan sistem sejenis untuk menangani sungai, yakni mesin Interceptor.

Sungai adalah saluran yang membawa polusi dari manusia menuju lautan. Menurut penelitian mereka, 80% sampah plastik sungai berasal dari 1.000 sungai lebih. Jadi, penting artinya bukan hanya membersihkan sampah yang sudah ada di sana, tapi juga mencegah limbah baru memasuki lautan sejak dini. Kita perlu menutup sumber awalnya.

Beginilah cara kerja kapal itu.

Mesin Interceptor mengumpulkan sampah plastik dari sungai-sungai sebelum sampai di laut. Sebetulnya, alat ini bekerja seperti kapal pukat: kapal menarik penghalang terapung yang menyerupai jaring, yang terpasang pada aliran sungai.

Penghalang itu menjaring plastik dan menggiringnya menuju sabuk berjalan di bagian tengah kapal. Sabuk berjalan lalu mengisap air dari puing-puing dan mengirimkan sampah menuju sebuah sekoci, yang menjatuhkan sampah itu ke dalam wadah di bawahnya. Semua sampah yang terkumpul kemudian didaur ulang di fasilitas pengolahan sampah setempat.

Aman dan efisien.

Hal yang paling mengesankan dari mesin Interceptor adalah alat ini 100% digerakkan oleh tenaga surya, mengumpulkan sampah dengan bantuan arus alami sungai, dan tidak membutuhkan operator manusia. Berkat baterai ion-litium, kapal itu bisa bergerak 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan dapat mengumpulkan 50.000 kg sampah per hari, tanpa kebisingan atau asap.

The Ocean Cleanup juga mengembangkan teknik penempatan yang pintar: mesin Interceptor hanya menempati setengah lebar sungai, sehingga memungkinkan kapal-kapal lain serta satwa air liar untuk beraktivitas di sekitar penghalang. Tidak adanya tekanan di luar aliran sungai juga memastikan bahwa tidak akan ada ikan yang masuk ke dalam sabuk berjalan.

Kapal-kapal ini telah beroperasi di seluruh dunia.

The Ocean Cleanup menargetkan untuk memasang Interceptor di ribuan sungai yang paling tercemar di dunia dalam waktu 5 tahun. Dua Interceptor telah bekerja di Indonesia dan Malaysia. Di Kuala Lumpur terdapat salah satu dari 50 sungai paling tercemar di dunia. Yang ketiga akan segera dikembangkan di Vietnam, dan yang keempat - di Republik Dominika.

Interceptor generasi pertama di Cengkareng Drain, Indonesia.

Interceptor kedua di Sungai Kelang, Malaysia.

Interceptor terbaru di Rio Ozama, Republik Dominika.

Semoga semakin banyak orang yang tertarik dengan gerakan ini dan inisiatif lain yang serupa. Pada tanggal 7 Mei, The Ocean Cleanup diberi dana untuk memerangi aliran air paling tercemar di Jamaika, sementara orang dari seluruh dunia bertanya bagaimana caranya mereka bisa memberikan kontribusi dalam program tersebut. Jawabannya sederhana: kalau kamu berhenti membuang sampah sembarangan, tidak akan diperlukan lagi kapal khusus untuk membersihkannya.

Apa pendapatmu tentang penemuan ini? Apa yang kamu lakukan untuk mengurangi jumlah sampah dalam kehidupanmu?

----
766
Bagikan Artikel Ini